Cerita singkat dari Tugas Perbantuan (BKO) Kanwil Jakarta

Rabu, Juni 24, 2009

Yah...BKO!Ini adalah tugas BKO kedua buatku setelah BKO Ambon akhir tahun lalu. Waktu penugasan memang nggak se-lama seperti BKO Ambon yang mengharuskanku tinggal 2 minggu di Kabupaten Seram Bagian Timur yang memang cukup "seram" sepinya. Kanwil Jakarta menugaskanku untuk melakukan inventarisasi dan penilaian pada satker Kanwil BC Jakarta. Awalnya aku berpikir, waduh...Kanwil pasti punya aset yang cukup banyak nih, apa aku mampu menyelesaikannya hanya dalam waktu 1 minggu saja? Setelah menerima selembar surat tugas, akhirnya bergegaslah kami menuju ke satker tersebut yang berlokasi di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Bertemu dengan Kepala Bagian Rumah Tangga dan disitulah akhirnya aku mengetahui bahwa ternyata satker ini adalah satker baru!!!Hhhhm, baru? kok aneh!Kukorek info sedalam-dalamnya mengenai riwayat satker ini , mengapa satker tersebut dibilang baru oleh penghuninya. Ternyata, satker ini merupakan merger antara Kanwil Jakarta I dengan Kanwil Jakarta II dan semua asetnya baru serta terdapat beberapa aset yang merupakan aset limpahan dari Kantor Pusat. Masalah baru timbul ketika kami memeriksa data SIMAK yang diberikan oleh satker bersangkutan. Ada sebuah kendaraan yang merupakan limpahan aset dari Kantor Pusat. Dilihat dari merk-nya (Opel Blazer) pun kami tahu bahwa kendaraan ini tidak muncul lagi seri terbarunya setelah 2006 namun dalam data tahun perolehan yang diinput. dalam SIMAK tertulis tahun 2007. Akhirnya kami korek informasi mengenai perolehan aset tersebut, dan akhirnya dari situlah kami tahu bahwa tahun 2007 yang diinput ke dalam SIMAK adalah tahun pengalihan aset dari Kantor Pusat kepada Kanwil. Sedangkan tahun perolehan yang dimaksud dalam IP adalah tahun perolehan BMN. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata diketahui bahwa perolehan BMN aset tersebut adalah melalui hasil pengadaan Kantor Pusat pada tahun 2001, yang berarti tahun perolehan BMN-nya adalah tahun 2001 dan wajib dilakukan revaluasi. Hhhm, cukup ribet memang karena tahun perolehan yang diinput dalam SIMAK (kalo ga salah) diawali dengan asal aset dan tahunnya. Jadi satker tidak bisa juga disalahkan apabila menginput tahun perolehan tahun 2007 dengan asal aset peralihan Kantor Pusat. Yah, what ever lah..yang penting kami melakukan pekerjaan sesuai dengan ketentuan dan Alhamdulillah....kali ini MAIA tidak terlalu memusingkanku seperti pada saat di-launching pertama kali awal tahun 2008 lalu. Melalui bantuan seorang teman, aku bisa menyelesaikan pekerjaan SE-04 via MAIA tepat pada jadwal yang ditentukan dalam ST. Dan finally.....tiba saatnya menunggu hak kami...hihihi...SPPD!

Deadline IP mundur lagi....?Kabar baik atau kabar buruk!

Sabtu, Juni 06, 2009

Deadline IP mundur lagi 31 Maret 2010....!Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara untuk negara sebesar Indonesia memang tidak semudah yang dibayangkan. Banyak sekali kendala yang mesti dihadapi tim penertiban BMN dalam melaksanakan tugasnya. Menurut pengalaman saya, ketika masih berada di KPKNL Sorong, kendala paling utama yang saya hadapi disana adalah kondisi geografis daerah. Pernah suatu ketika saya ditugaskan untuk melakukan IP di Kabupaten Teluk Bintuni. Untuk menuju kesana pun saya harus menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, 27 jam dengan menggunakan kapal laut dan hanya bisa tidur dengan alas koran di geladak kapal karena kehabisan tempat tidur di dalam ruangan!Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Kendala kedua yang paling sering dihadapi adanya beberapa K/L yang nampaknya kurang kooperatif, atau malah menyangka bahwa tim penertiban adalah tim pemeriksa (bahkan KPK!). Aneh memang, tapi saya pernah mengalami hal itu. Hal tersebut tentu saja membuat tugas tim penertiban menjadi lebih berat. Kendala selanjutnya yang juga sering ditemui adalah kesemrawutan dan validitas data awal satker. Banyak sekali satker yang belum menerapkan SABMN, bahkan pernah saya jumpai satker yang telah ber-SABMN namun ketika saya minta datanya KOSONG. Alasannya kena virus lah, inilah, itulah...huh bikin kesal juga. Oleh karena itu, saya tidak tahu apakah berita mundurnya deadline IP menjadi sebelum 31 Maret 2010, menjadi kabar baik atau malah kabar buruk bagi teman-teman. Kabar baik karena akselerasi pekerjaan melelahkan ini bisa sedikit dikurangi dengan cara merubah setelan akselerasi pekerjaan dari mode ngoyo (arti indonesia : tergesa-gesa karena terpaksa:P) ke mode lumayan santai, hehehe. Namun tak sedikit pula yang berfikir berita ini justru menjadi kabar buruk (nah lho...!!!). Iya, berarti masih akan ada pekerjaan yang melelahkan (baik jiwa maupun raga....) untuk dilaksanakan! Hhm, mau gimana lagi? Mau nggak mau ini adalah pekerjaan kita, karena memang kita dibayar untuk itu kan? Ok deh, TETAP SEMANGAT YA, TEMAN-TEMAN!

Journey of The Jungle (At Medco Energy EP Musi Rawa)

Jumat, Mei 29, 2009

Jujur...pertama kali dapat ST, aku ga tau persis dimana Musi Rawas itu, cuma nebak-nebak aja kayaknya deket Palembang deh (karena ada Musi-nya hehehe, eh ternyata bener!). Banyak banget pengalaman yang ku alami selama perjalanan ini. Mulai dari sholat subuh berjamaah dengan "Bang Rhoma and his son Ridho" di Cengkareng, perjalanan Palembang- Musi Rawas (Areal Medco Soka) yang ditempuh "hanya" dalam waktu 7 jam darat, menginap di kamar hotel (Bukit Serelo) yang bersebelahan dengan personel S07 (yang kebetulan akan show di Lahat),, maen ke teman-teman di KPKNL Lahat (KPKNL Ruko, soalnya kantornya yang ada di ruko hehehe), tersesat di Kebun Kelapa Sawit sampe mobil mogok tepat adzan maghrib di Muara Enim. Pfiuuuh..perjalanan yang panjang. Jujur aja, rasa lelah kami lebih banyak disebabkan perjalanan selama berjam-jam dari satu areal pengeboran ke areal pengeboran yang lain bukan karena pekerjaan survei lapangan dalam rangka penilaian itu sendiri. Akses jalan di areal lokasi lebih banyak hanya berupa jalan tanah yang berlubang, berdebu dan berliku. Sangat tidak nyaman berada di dalam mobil Ford Ranger itu berjam-jam dengan kondisi jalan seperti itu. Untuk sekedar memejamkan matapun sangatlah susah karena aku pasti terbangun ketika mobil masuk ke dalam sebuah lubang yang cukup besar dengan kecepatan 80-100 km/jam yang dapat membuat badanku terguncang meski seat belt melingkar dengan rapi. Mau gak mau aku harus tetap survive, kalau mereka (karyawan Medco) bisa kenapa aku tidak. Toh ini juga salah satu jihad yang harus kujalani demi anak dan istriku di rumah. 2 hari aku alami perjalanan panjang, yang sekali lagi, sangat tidak nyaman! Meninjau satu demi satu areal pengeboran walaupun akhirnya tidak bisa selesai semuanya (mohon maaf buat teman-teman Kanwil Palembang karena menyisakan pekerjaan baru untuk diselesaikan!). Menerobos areal perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet, melihat sebagian hutan yang telah gundul karena penebangan (damn, that's why global warming's effects increase!) pemukiman penduduk transmigrasi yang sangat memprihatinkan, semuanya telah memberiku pencerahan. Pencerahan untuk menyadarkanku menjaga lingkungan untuk mencegah efek pemanasan global yang makin bertambah setiap waktu, pencerahan untuk menyadarkan aku untuk mensyukuri kehidupan yang kujalani, yang aku anggap lebih baik dari penduduk trans disana. Alhamdulillah, perjalanan dinas ini memberiku tidak hanya pengalaman tapi juga pencerahan. Pencerahan untuk menjalani kehidupan yang baik untuk menuju kehidupan yang lebih baik. (NB : terima kasih untuk sambutan sederhana dari teman-teman di KPKNL Lahat, Hidup DJKN!)

Selepas dari Banda Aceh.....

Jumat, Mei 15, 2009

Alhamdulillah aku telah kembali dari tugas penilaian ke Banda Aceh. Wah seumur-umur baru pertama kali ini aku menginjakkan kaki di kota itu. Banyak sekali kesan yang aku tangkap  selama 4 hari berada di kota ini. Satu, udaranya panas banget, mirip banget sama udara kota Sorong (disini aku 3,5 tahun mengabdi di KPKNL sebelum mutasi), cuma bedanya matahari Aceh sangat menyengat dari atas, sedangkan Sorong menyengat atas bawah. Lho....dari bawah karena memang uap panas minyak dari bawah permukaan tanah menyembul ke atas,jadinya panas banget. Sekian tentang Sorong,hehe. Kesan kedua yang kudapat di Aceh, trauma. Kenapa trauma? Karena kulihat hampir sebagian besar bangunan baru yang berdiri itu berlantai dua, mungkin adalah salah satu bentuk antisipasi masyarakat Aceh karena trauma atas kejadian tsunami yang pernah dihadapi. Masih banyak juga kulihat sisa puing-puing bangunan yang ditinggalkan oleh pemiliknya, entah mengungsi atau karena meninggal dalam bencana tersebut (Innalillahi...), selain itu sempat juga aku melewati beberapa lokasi kuburan massal yang didirikan, ya Allah miris banget melihatnya (semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk mereka). Ketiga, Unik...Unik dalam kebiasaan umum masyarakat, masyarakat Aceh kelihatannya sangat gemar minum kopi. Bahkan salah satu teman di Aceh mengatakan biasanya setelah apel pagi, pegawai disini selalu berbondong-bondong menuju kedai kopi terdekat, untuk sekedar melakukan rutinitas minum kopinya, wah..wah..unik juga pikirku. Itulah kenapa di Aceh banyak sekali terdapat kedai kopi di pinggir jalan dari yang kaki lima sampai ruko 2 lantai (mengingatkanku akan kota Ambon yang juga cukup banyak terdapat kedai kopi).  Hal unik lain yang kutemui disini adalah semua iklan yang terpampang di pinggir jalan umum yang menampilkan bintang iklan perempuan semuanya berjilbab! Hhhm, penerapan syariat Islam disini memang merambah semua segi kehidupan termasuk periklanan. Disinilah aku baru melihat Luna Maya dan Pevita Pearce menggunakan jilbab dalam salah satu iklan operator seluler ternama di Indonesia. Unik yang lain mungkin banyak ditemui di daerah lain yaitu bahasa. Mendengar mereka berbicara dengan logat melayu yang cukup unik, dahiku mengkerut. Logat melayu mereka menurutku mirip dengan gabungan logat bahasa Bali dan Bugis, unik banget. Kesan terakhir yang kudapat adalah keramahtamahan masyarakatnya. Mereka tak pernah segan menyapa satu sama lain, bahkan orang asing seperti aku yang baru menginjakkan kaki disana. Pengalaman paling berkesan adalah dimana tim kami sedang berjalan-jalan mencari data pembanding untuk obyek penilaian (ternyata susaaah banget mendapatkan data pembanding disana) dan akhirnya berhenti di suatu kedai kopi. Disana kami bertemu dengan 2 orang Bapak yang bersedia dengan rela hati mengantarkan kami menuju tempat tanah yang mereka tahu akan dijual di sekitar tersebut dengan motornya. Ck..ck..Hal itu tak akan kutemui di Jakarta. Semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri dan hanya mau membantu orang lain dengan imbalan. Hhhm, benar-benar Aceh yang berkesan. Terima kasih teman Aceh-ku, hanya Allah yang akan membalasnya. Amien....

Inventarisasi dan Penilaian (IP) Usai...Apakah fungsi penilaian selanjutnya?(in my opinion)

Kamis, April 30, 2009

Fungsi teknis penilaian sejatinya telah ada sejak DJKN ini masih bernama DJPLN, namun pada saat itu penilaian hanya berkutat pada penilaian barang jaminan kredit macet. Metodenya pun saat itu, menurutku masih ga jelas. Memang, untuk penilaian bangunan pada saat itu telah menggunakan Daftar Komponen Penilaian Bangunan, namun penerapan metode biaya versi DKPB saat itu masih belum se-detail sekarang, karena memang model generalisasinya masih "lebar", tidak se"sempit" sekarang, sehingga nilai yang dihasilkan juga tidak se-akurat DKPB masa kini. Untuk penilaian tanah, walaupun menggunakan "alih-alih" metode data pasar namun data pasar yang digunakan saat itu tidak lebih dari harga pasar yang didapat dari keterangan kepala desa setempat yang masih terlalu lebar bias-nya karena tidak ada proses komparasi antara obyek penilaian dengan obyek pembanding di dalamnya. Harga pasar tanah yang dihasilkan pun merupakan agregat antara harga pasar keterangan lurah dan NJOP setempat. Tapi begitulah  sebuah proses, tidak mungkin semuanya akan langsung sempurna pada awalnya. Fungsi penilaian dirasa menjadi semakin strategis ketika DJPLN bertransformasi menjadi DJKN yang mana scope tugasnya pun menjadi lebih banyak dan luas. Itu berarti tantangan yang harus dihadapi bidang penilaian semakin berat. Secara bertahap pedoman penilaian disusun sedemikian rupa dan menyesuaikan dengan kaidah penilaian yang telah berlaku umum. Metode yang digariskan dalam pelaksanaan teknis penilaian pun telah ditegaskan untuk menggunakan kaidah yang berlaku umum. Masa-masa berat "perang" target IP sampai dengan tulisan ini dibuat masih dijalani oleh teman-teman Kanwil & KPKNL. Namun, banyak yang bertanya-tanya, akan seperti apa bidang penilaian setelah IP ini berakhir? Apakah penilaian akan mati suri untuk sementara waktu sembari menunggu periode IP selanjutnya? Penilaian tetap mempunyai arti dan fungsi penting. Yang perlu diingat, bahwasanya penilaian senantiasa melekat dalam proses pengelolaan aset, yang secara khusus disini adalah aset negara. Aset yang senantiasa berubah sepanjang waktu memerlukan penilaian sebagai media kontrol, evaluasi, dan tentu saja pelaporan. Sebagai media kontrol, penilaian merupakan proses pengawasan keberadaan aset yang berupa kegiatan survey dan inventarisir aset. Sedangkan penilaian sebagai media evaluasi adalah dimana hasil penilaian dapat menjadi patokan penentuan seberapa efektif dan efisien keberadaan sebuah aset dalam menunjang kelangsungan hidup organisasi. Hasil penilaian itu sendiri akan menjadi bahan pelaporan periodikal bagi sebuah organisasi. Nah ditinjau dari 3 segi ini saja sebenarnya banyak hal yang akan berkembang dan tentunya melibatkan penilaian di dalamnya. Sebagai contoh, teman-teman di kantor pusat akhir-akhir ini cukup banyak kebanjiran "job" dari departemen/lembaga negara berupa permohonan penilaian dalam rangka pemanfaatan dan pemindahtanganan Barang Milik Negara, apakah itu yang hibah, penghapusan, maupun ruislag. Bulan kemarin juga, kami banyak menerima permohonan bantuan tenaga penilai dari Pemerintah Daerah, namun untuk sementara belum dapat ditindaklanjuti karena beban kerja di kantor yang masih cukup tinggi. Nah dari sedikit contoh tersebut (yang kemungkinan bisa berkembang), menyiratkan bahwa tugas kita sebagai penilai tidak hanya sampai disini (baca : IP) saja. Masih banyak potensi lahan penilaian yang bisa digarap, tinggal kita harus menyiapkan diri untuk lebih meningkatkan kompetensi kita dalam mengahdapi "tantangan" tersebut. Siapkah anda...?

Standar Penilaian Indonesia (SPI) - 2007

Teman-teman sebagai seorang penilai sudah seharusnyalah kita mengetahui standar penilaian yang berlaku baik di Indonesia maupun di seluruh dunia agar dapat mensejajarkan diri dengan penilai lain di seluruh dunia. SPI - 2007 adalah standar penilaian terbaru yang telah mengadaptasi International Valuation Standards 2005 edisi 7 yang diterbitkan oleh International Valuation Standards Comitee (IVSC). Ada baiknya kita mendalami terlebih dahulu apa sebenarnya SPI itu untuk lebih memahami arti profesi kita sebagai penilai. File SPI-2007 dapat teman-teman unduh di link ini. Selamat mengunduh dan semoga bermanfaat.

Apa yang terjadi kemarin.....?

Selasa, April 28, 2009

Senin sore menjelang maghrib, aku masih ada di depan komputerku, bersilaturahmi dengan teman lama  melalui situs jejaring sosial facebook. Saat itu waktu menunjukkan pukul 17.30, aku sedang asyik bercengkerama via chat dengan seorang teman SMU-ku sembari menikmati alunan musik funk  band Brand New Heavies. Memang sudah biasanya aku menyalakan musik dengan volume agak kencang ketika pulang kantor, hingga aku sadar telah ada beberapa orang berkumpul di depan ruangan Direktur kami, Pak Iwan. Ada apa gerangan....?Seketika itu pula, aku matikan musik di komputerku dan bergegas menuju kerumunan orang di depan ruang Direktur. Sesampainya aku disana, aku semakin bingung karena Pak Hadiyanto (Dirjen KN) ternyata telah berada di  ruangan itu. Kuberanikan diri untuk masuk ke dalam, dan saat aku berada di depan pintu itu, Masya Allah...kulihat Bapak Direktur tercinta kami telah terduduk di kursi, sekujur tubuhnya pucat pasi, beliau dikelilingi oleh beberapa orang yang berusaha memberikan pertolongan pertama. Aku bingung, apa yang bisa kuperbuat,........aah tidak ada yang bisa kulakukan selain berdoa demi keselamatan beliau. Ambulans telah dihubungi oleh salah seorang teman, namun sudah 10 menit berlalu ambulans itu tak juga datang. Tak berapa lama, akhirnya Pak Iwan dibawa ke RSPAD Gatot Subroto dengan menggunakan mobil pribadi. Aku terdiam kaku melihat mobil itu berlalu, 2 menit kemudian ambulans datang dan seketika itu pula kita memberi tanda pada sopir ambulans itu untuk segera menyusul mobil di depan. Ya Allah, lindungilah beliau, Bapak kami tercinta, jangan biarkan beliau pergi meninggalkan kami! Dengan harap-harap cemas, aku menunggu berita dari Ferda, sekretaris direktur yang ikut mendampingi beliau di dalam mobil ke rumah sakit. Aku mencoba untuk menelpon, entah kenapa selalu panggilan ditolak, akhirnya aku mencoba menghubunginya dengan sms untuk menanyakan kondisi terakhir Pak Iwan, dan ketika sebuah sms dari Ferda sampai di hpku, "mas, uda gak tertolong". Innalilahi Wa Inna Ilaihi Rajiun, Bapak kami telah berpulang ke rahmatullah, dunia penilaian DJKN telah kehilangan figur seorang Bapak, yang supel, ramah, humoris, dan tak pernah menjaga jarak dengan siapa saja termasuk bawahannya. Almarhum juga dikenal dengan sosok yang selalu memberi wejangan dan nasehat kepada orang lain terutama kami, kaum muda di kantor tentang hidup dan kehidupan. Selamat tinggal Bapak kami....Semoga arwah beliau diterima di sisi-Nya dan segala kekhilafan beliau semasa hidup diampuni oleh Allah SWT. Amien.... 

Berita Duka

Senin, April 27, 2009


Innaalillaahi Wa Innaa Ilaihi Rooji'uun.

Telah berpulang ke Rahmatullah

Direktur Penilaian Kekayaan Negara

Bpk. Iwan Hindawan Dadi

Beliau wafat dikarenakan serangan jantung
di kantor pada pukul 17.40 WIB.

Jenazah sempat dibawa ke RSPAD Gatot Subroto
lalu dibawa ke rumah duka yang beralamat di

Komplek Perum Keuangan Rawamangun
Jl. Perhubungan VII No.10.

Rencananya beliau akan dikebumikan di tempat
kelahirannya yang bertempat di
Cinunuk, Garut, pada hari Selasa (28/04) pagi
berangkat dari Jakarta pukul 09.00 WIB.

Semoga beliau mendapatkan tempat yang layak
di sisi Alloh SWT atas jasa-jasanya selama
mengabdi di Departemen Keuangan RI.

Amiiin. Yaa Robbal 'Aaalamiin.

Diberdayakan oleh Blogger.